Yogyakarta, 23 Desember 2025 – Atmosfer akademik yang semarak dan penuh antusiasme mewarnai kegiatan Bedah Buku Nasional yang diselenggarakan di Ruang Sidang Dekan Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (23/12). Kegiatan prestisius ini menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Rendi Prayuda, S.IP., M.Si, Wakil Direktur I Program Pascasarjana Universitas Islam Riau (PPS UIR), sebagai penulis dan narasumber utama dalam bedah buku berjudul “ASEAN dan Kejahatan Transnasional Narkotika: Problematika, Dinamika, dan Tantangan.”
Buku tersebut bukan karya biasa. Ia telah menorehkan prestasi nasional dengan meraih Anugerah Buku Terbaik Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Tahun 2023, menegaskan kualitas ilmiah, relevansi isu, serta kontribusinya dalam pengembangan kajian politik, keamanan regional, dan hubungan internasional di kawasan Asia Tenggara.
Kegiatan ini dihadiri oleh sivitas akademika UMY lintas program studi, antara lain Dr. Hasse Juba, MA selaku Ketua Program Studi Doktor Politik Islam Ilmu Politik dan Magister Hubungan Internasional UMY, Dr. Ali Maksum, MA sebagai moderator sekaligus Sekretaris Program Studi Doktor Politik Islam Ilmu Politik dan Magister Hubungan Internasional UMY, dosen Hubungan Internasional UMY, serta mahasiswa Program Doktor Politik Islam Ilmu Politik dan mahasiswa Magister Hubungan Internasional UMY.
Dalam pemaparannya, Assoc. Prof. Dr. Rendi Prayuda menekankan bahwa kejahatan narkotika lintas negara merupakan ancaman serius yang tidak dapat ditangani secara parsial oleh satu negara saja. ASEAN, menurutnya, membutuhkan pendekatan kolaboratif, kebijakan lintas sektor, serta penguatan kapasitas kelembagaan untuk menghadapi dinamika kejahatan transnasional yang semakin kompleks.
“Buku ini lahir dari kegelisahan akademik dan praktik kebijakan. Kejahatan narkotika bukan hanya soal hukum, tetapi juga menyentuh aspek politik, keamanan, sosial, dan kemanusiaan. ASEAN harus dilihat sebagai ruang strategis untuk membangun kerja sama yang lebih solid dan adaptif,” ujar Rendi Prayuda di hadapan peserta.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya budaya menulis dan riset di lingkungan perguruan tinggi. Hal tersebut sejalan dengan pesan akademik yang tertuang dalam bukunya:
“Proses pengembangan potensi diri diharapkan mampu dilakukan oleh sivitas akademika dalam penyusunan buku ajar sehingga isu-isu terbaru mampu diadopsi secara optimal dalam setiap proses transfer knowledge yang dilakukan di lingkungan formal dan informal fakultas.”
Ia juga mengutip pesan reflektif yang menjadi spirit penulisan buku tersebut:
“Ketika seorang penulis hanya menunggu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri dan sedang berbohong pada mimpinya.”
Pesan ini mendapat respons positif dari para peserta yang menilai bahwa kegiatan bedah buku tidak hanya memperkaya wawasan keilmuan, tetapi juga memantik motivasi untuk aktif meneliti, menulis, dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam sesi diskusi, berbagai pertanyaan kritis mengemuka, mulai dari efektivitas kebijakan regional ASEAN, tantangan koordinasi antarnegara, hingga peran akademisi dalam mendorong kebijakan berbasis riset. Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif, mencerminkan tingginya minat serta kepedulian sivitas akademika terhadap isu kejahatan transnasional narkotika.
Di akhir kegiatan, disampaikan pula apresiasi besar kepada penulis atas keberhasilannya menyelesaikan buku ajar berkualitas tinggi yang diharapkan mampu menumbuhkan motivasi dan membawa perubahan positif bagi atmosfer akademik, khususnya di Universitas Islam Riau secara umum dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik secara khusus.
“Tidak ada kata selain selamat, dan tidak pernah berhenti untuk berpikir serta belajar bagi kita semua,” menjadi penegasan penutup yang menggema dalam forum ilmiah tersebut.
Kegiatan bedah buku ini menegaskan komitmen PPS UIR dan UMY dalam memperkuat tradisi akademik, memperluas jejaring keilmuan, serta mendorong lahirnya karya-karya ilmiah bermutu yang relevan dengan tantangan global. Dengan semangat kolaborasi dan intelektualitas, dunia akademik diharapkan terus menjadi garda terdepan dalam merespons persoalan strategis bangsa dan kawasan.(IN)






